[metaslider id="20825"]Titik Balik Peradaban, Tragedi Anak Hits Jaman Now
Connect with us

Titik Balik Peradaban, Tragedi Anak Hits Jaman Now

Uncategorized

Titik Balik Peradaban, Tragedi Anak Hits Jaman Now

Penulis : Agung Ari Antono
SBNews – Jaman adalah shigot waktu yang menjelaskan kondisi akan terjadinya sebuah kejadian. Kemajuan teknologi saat ini adalah sebuah jaman yang membuat pribadi kita masuk kedalam sebuah ranah keingin tahuan, untuk mengkonsumsi apa saja yang terlihat atau nampak dalam panca indera kita. Charles Sanders Pierce mengungkapkan bahwa hal tersebut adalah Representamen.
Representamen adalah bagian tanda yang merujuk pada sesuatu (objek) menurut cara atau kapasitas tertentu, yang artinya sebuah tanda yang tanda itu menjadi sebuah hukum bagi kita untuk menginginkan sebuah informasi yang tidak bisa kita elakkan.
Hal ini yang mulai memberikan representamen terhadap perwujudan dari efek yang di berikan atas kondisi jaman yang tidak terelakkan, serta menjadikan televisi adalah sebuah kebutuhan primer, dengan asumsi adanya televisi mempermudah khalayak untuk memperoleh informasi dan hiburan.
Kuswandi (1996) mengungkapkan, bahwa “Televisi adalah salah satu media massa hiburan yang sangat digemari oleh anak-anak. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa anak-anak merupakan kelompok usia yang paling banyak menghabiskan waktu di depan televisi. Mereka menghabiskan waktunya menonton televisi rata-rata 20 sampai 25 jam perminggu.”
Untuk memiliki kemampuan membius, membohongi, dan melarikan khalayak dari kenyataan-kenyataan kehidupan disekelilingnya adalah beberapa keunggulan televisi. Televisi dibandingkan dengan media lain memiliki kemampuan manipulatif dan menghibur. Dalam buku semiotika for beginners mengungkapkan, ”Televisi akan menyadarkan kita terhadap frasa yang berguna, yang tanpa kita sadari itu adalah sebuah semiotika.”
Menurut Prof. Dr. R. Mar’at, “Acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan para penonton, ini merupakan hal yang wajar. Jadi, jika ada hal-hal yang mengakibatkan terharu,terpesona atau latah bukanlah sesuatu yang istimewa, sebab salah satu pengaruh psikologi dari televisi ialah seakan-akan menghipnotis penonton sehingga penonton tersebut terhanyutkan dalam suasana pertunjukkan televisi.”
Hal ini menjadi fenomena yang tak terelakkan pada realitas saat ini, tetapi dengan perkembangan teknologi. televisi sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan digantikan dengan smartphone yang lebih mudah digunakan serta multi fungsi. Fenomena ini juga dibuktikan dengan kegunaan smartphone yang telah menggantikan fungsi televisi untuk menghibur dan memberikan informasi.
Media sosial (blog, virtual game, jejaring sosial, dan lain-lain) hadir sebagai bagian dari perkembangan internet yang telah membawa banyak perubahan dan untuk memenuhi kebutuhan akan perubahan tersebut. Salah satu jejaring sosial tersebut ialah instagram.
Dengan kemunculan instagram ini, pengguna dapat mendapatkan informasi, baik itu foto atau video, serta pengguna dapat pula menerima berita atau hiburan yang didapatkan di televisi, serta berita pun lebih mudah viral di bandingkan dengan televisi. Smartphone dengan aplikasi instagram benar-benar menggantikan fungsi keberadaan televisi.
Berdasarkan survei yang dirilis oleh Global Web Index, bahwa remaja dengan umur 16-24 tahun dikatakan sebagai usia aktif dalam penggunaan instagram. Remaja umur 16-24 tahun, tergolong pada usia yang sudah stabil, menyadari tujuan hidupnya dan dapat menentukan hal-hal yang ingin dilakukan terhadap dampak positif atau negatif dari perbuatannya.
Salah satu kegunaan instagram adalah dapat mengabadikan kegiatan baik menggunakan foto atau video. Salah satunya ialah kegiatan selfie (self portrait), yaitu kegiatan berfoto yang menampilkan seluruh atau sebagian tubuh si pengguna dengan menggunakan kamera handphone, serta foto-foto tersebut dapat diunggah ke instagram dengan efek-efek yang dimiliki media sosial tersebut
.
Selfie (self portrait) sebagai sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita saat ini merupakan sebuah fenomena yang sedang booming khususnya di kalangan remaja. Hal ini dikarenakan foto selfie (self portrait) yang diunggah ke media sosial seperti instagram dapat memenuhi kebutuhan ke arah aktualisasi para remaja tersebut.
Sehingga, mereka merasa selfie (self portrait) sebagai media yang dapat menyalurkan kebutuhan mereka. Selfie (self portrait) pada awal kemunculannya bertujuan untuk menginformasikan kepada orang lain. Namun, sekarang ini tujuan orang melakukan selfie (self portrait) mulai bergeser.
Fenomena selfie (self portrait) berkaitan erat dengan citra yang dipersepsikan seseorang atas dirinya sendiri (self image). Karena melalui selfie (self portrait), setiap orang ingin menampilkan sisi terbaiknya kepada orang lain. Sehingga, kesan yang dimiliki orang lain terhadap dirinya dapat bernilai positif.
Hal tersebut akan menciptakan dorongan dari dalam dirinya untuk berbuat atau mencapai sesuatu yang ia inginkan agar dapat memenuhi kebutuhannya. Selain itu, melalui kegiatan selfie (self portrait) dan mengunggahnya ke instagram juga dapat membuat ia menilai dirinya sendiri atau dinilai oleh orang lain.
Karena melalui selfie (self portrait), seseorang dapat lebih mengutarakan apa yang dipikirkannya. Usaha yang dilakukan oleh orang tersebut secara tidak langsung membuat ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Sehingga, kegiatan selfie (self portrait) tersebut yang dilakukan ditinjau dari sudut pandang komunikasi intrapersonal.
Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan term-term penting dalam kerangka intersubjektivitas. Atkinson (2011: 57) mengungkapkan, Pendekatan fenomenologis untuk mempelajari kepribadian dipusatkan pada pengalaman individual pandangannya pribadi terhadap dunia. Alfred Schutz adalah ahli teori fenomenologi yang paling menonjol sekaligus yang membuat fenomenologi menjadi ciri khas bagi ilmu sosial hingga saat ini.
Inti pemikiran Schutz adalah bagaimana memahami tindakan sosial (yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang) melalui penafsiran. Dengan kata lain, mendasarkan tindakan sosial pada pengalaman, makna, dan kesadaran. Sehingga, manusia dituntut untuk saling memahami satu sama lain, dan bertindak dalam kenyataan yang sama.
Berdasarkan pemikiran Schutz, remaja yang melakukan selfie (self portrait) sebagai aktor memiliki kedua motif tersebut, yaitu motif yang berorientasi ke masa depan (in order to motive), yaitu apa yang diharapkan remaja dari kegiatan selfie (self portrait); dan berorientasi pada masa lalu (because motives), yaitu alasannya di masa lalu yang membuat remaja tersebut melakukan selfie (self portrait).
Dalam konteks fenomenologis, remaja pelaku selfie (self portrait) adalah aktor yang melakukan tindakan sosial (kegiatan selfie) sendiri atau bersama dengan aktor lainnya. Yang hal tersebut dalam segi tindakan tidak terlepas dari alasan masa lalu sebagai motif yang tergantung dari sebuah kegiatan selfi.
Sebuah jurnal ilmiah yang ditulis oleh Fritta Faulina Simatupang berjudul Fenomena Selfie (Self Portrait) Di Instagram (Studi Fenomenologi Pada Remaja Di Kelurahan Simpang Baru Pekanbaru)  mengungkapkan, berdasarkan pernyataan-pernyataan dari hasil wawancara yang diperoleh, terlihat enam (6) orang informan memiliki konsep diri negatif dan 4 memiliki konsep positif.
Hal ini sejalan Calhoun dan Acocella dengan konsep diri negatif yang memiliki dua pandangan, yaitu, pertama, pandangan seseorang tentang dirinya benar-benar tidak teratur, dia tidak tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan; kedua, orang tersebut memiliki konsep diri yang terlalu stabil dan teratur, sehingga terkesan kaku.
Pada dasarnya kegiatan selfie (self portrait) ini berhubungan atau berkaitan erat dengan self image, yaitu citra yang dipersepsikan seseorang atas dirinya sendiri. Sehingga, para remaja pelaku selfie (self portrait) akan berlomba-lomba untuk menampilkan sisi terbaiknya kepada orang lain melalui penampilannya dalam foto selfie (self portrait) yang diunggah ke instagram agar dapat dinilai baik oleh orang lain.
Yang menjadikan penerimaan diri, bahwa orang dengan konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik sekali. Sehingga, orang dengan konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta mengenai dirinya sendiri. (Calhoun dan Acocella, 1995:73).
Tetapi dengan realitas tersebut para pengguna terkekang dengan keberadaan instagram ini, kita ketahui dengan adanya instagram ini beberapa menerima dan juga tidak dengan baik menerima dirinya.
Dilihat dari realitas yang ada, keberadaan tersebut membuat kita terfokus akan citra baik yang ingin kita raih, tetapi tanpa kita sadari hal tersebut membuat kita lupa akan hakikat kita sebagai manusia, terbukti pada realitas saat ini banyak anak muda yang berlomba-lomba tampil cantik dan eksis di media sosial. Semisal, kita sama-sama tau beberapa hari ke belakang ada anak muda yang menyemprotkan bedak ke dalam mulutnya lalu menyeburkannya, dengan target eksistensinya diketahui oleh orang lain.
Tokoh eksistensialisme menegaskan, bahwa manusia adalah makhluk yang eksistensi, maka sudah barang tentu memikirkan bagaimana memberikan eksistensi tanpa memikir akan baik atau buruk yang di nilai dari orang lain.
Suatu realitas yang menjadi titik balik peradaban keberfungsiaan televisi sebagai pemberi informasi dengan sebab berkembangnya teknologi, televisi pun mulai digantikan dengan smartphone yang seharusnya hanya sebagai alat komunikasi jarak jauh. dimana, kapasitas smartphone yang lumayan canggih sudah bisa menggantikan keberfungsian televisi untuk mendapatkan informasi, tetapi pada realitas saat ini smartphone itu menjadi belenggu bagi para pengguna.
Lihat saja saat ini generasi penunduk (para pengguna smartphone) yang hidupnya sudah masuk kedalam smartphone dan melupakan kehidupannya yang real dan objektif di dunia ini sebagai manusia. Itulah yang kita sebut sebagai Anak hits jaman now, yang lebih mementingkan citra dirinya sebagai anak jaman sekarang, tanpa dia sadari dia melupakan hal-hal yang menjadi dirinya sebagai manusia.

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Siber Hukum & Kriminal

To Top
Kirim Pesan
Terimakasih Atas Informasinya, Kami akan menjaga identitas pemberi informasi