[metaslider id="20825"]Catatan Pinto Janir: Filosofi ‘Beruk’?
Connect with us

Catatan Pinto Janir: Filosofi ‘Beruk’?

Berita hari ini

Catatan Pinto Janir: Filosofi ‘Beruk’?

Ilustrasi Beruk (Indo; Monyet).


TERMENUNG buruk saya memerhatikan ulah beruk. Baru saya yakin,
rupanya cermin dibuat untuk mengaca. Apakah ini bahasa simbol dari seorang
Genius Umar yang Walikota Pariaman itu? Di kota ini ada sekolah beruk. Awak
tahu, beruk paling ahli soal panjat memanjat. Bila tangan tak sampai, penggalan
pengulasnya. Bila  pohon kelapa tinggi,
baruk membantu menurunkan buahnya. Kalau tak bisa memanjat, jangan dipaksakan
diri.Berkelukuran dada kau nanti. 
Sekolah beruk. Sekolah tinggi
pula namanya. Sekali lagi, Sekolah Tinggi Ilmu 
Beruk (STIB) hanya ada di Pariaman rupanya. Di tempat lain, mungkin ada
juga. Tapi namanya belum tentu STIB. Pariaman kaya dengan parak karambia. Luar
biasa bantuan beruk menurunkan karambia dari ateh batang nan tinggi. Beruk,
tahu pula ia mana karambia nan patuik diturunkan dan mana karambia nan alun
pantas dipiuh.
Alam takambang manjadi guru,
itu filosofi yang sudah membumi di Ranah Minang ini. Apa yang ada simaklah.
Kalau awak ragu,  bertanyalah. Apa-apa
nan tersekat di pikiran lekas apungkan pertanyaan pada diri sendiri. Keraguan
memunculkan pertanyaan. Ragu bertanya memunculkan potensi kesesatan. Bukankah
begitu, duhai kawan?
Bisa jadi, keraguan adalah
awal dari sebuah pengetahuan.
Ada apa, mengapa, bagaimana,
bagaimana menjadi mengapa, apa menjadi bagaiman, apa di balik mengapa, ada
siapa dengan apa, apa dengan siapa, mengapa begitu, mengapa tak harus begini,
mengapa tiba-tiba siapa ingin menjadi apa?
Sering-seringlah membaca alam.
Abih salero tingga raso.
Sahabih-habih raso,
tinggakan diri ka Nan Kuaso.
Baiklah saya simak perangai
beruk di sekolah tinggi ini dulu ya…
Di sekolah beruk ini, pelatih
mengajar beruk dengan kasih sayang. Beruk tahu aba-aba dari bahasa tali. Ia
pandai membaca akan kemana santak tali, piuh tali, gatik tali.
Tahu dengan cewang di langik
tando ka paneh, cewang di hati tando curiga. Tahu jo karambia ma nan  kaditurunkan dulu ma nan indak buliah
dijujuik. Beruk menurunkan karambia. Nan manaikkan karambia, itu  bukan beruk namanya !
Setantang ini, saya dapat
pelajaran lagi tentang  beruk saja bisa
diajar, apa lagi awak nan manusia-manusia ini !
Beruk tak pernah terdengar
oleh saya mahimpokkan buah karambia ka kapalo orang yang telah lama membantu
atau melatihnya. Beruk tak pernah pula berlaku buruk pada orang atau tuan yang
membantunya untuk “cakap” hidup.
Hahahaha…
Apakah kita pernah mendengar
gelagat beruk memperburukkan tuannya kepada beruk yang lain atau kepada tuannya
yang baru?
Kalau saya, belum pernah
mendengarnya. Kalau ada, ha iya baruak namanya mah !
Lalu saya lihat seekor beruk
sedang memanjat. Bila ada agak lain ganjua tali sang “guru” nan turun
bukan karambia tua, tapi karambia muda. 
Ternyata karambia muda itu untuk sang tuan yang notabene orang yang
berjasa mengajarnya menjadi beruk yang “cerdik”. Nan tahu jo karambia
mudo, karambia tuo dan nan tahu jo karambia ampo.
Lalu soal beruk atau juga kera
yang juga  kelompok primata mengingatkan
saya pada pesan moril Buya Hamka: “Kalau bekerja sekadar bekerja, kera
juga bekerja”.
Beruk itu kerja keras. Manusia
kerja cerdas. Kerja keras bukan keras bekerja.Bukan menggunakan otot semata,
tapi juga segala pikiran yang ada. Namun kalau kita berpikir ke berpikir saja
terus kerjanya tanpa aksi–tanpa berusaha menyampaikannya walau  lewat lisan atau tulisan dan hanya diam, itu
melamun namanya. Jangan sampai seperti si bisu barasian kalam hari.
A nan takana, amati, analisis; tulis !
Soal beruk mengingatkan saya
pada peribahasa “anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan”.
Maknanya, apa nan jadi keharusan jangan sampai dinomorduakan pula. Urusan orang
lain diurusi, urusan awak jan sampai dilengahkan. kalau urusan rumah tangga
dilengahkan, bercakak kita berlaki bini nantik. Ditinggal bini itu
pedih…Namuah kurus badan dibuatnya ! Kok ka makan, ambiak se surang…
Caliaklah caro makan beruk. Nyo main caca surang. Beruk, berpantang
beragih. Alun abiah di muncuang nyo nan di tangan urang lah nyo semba pulo
Ini baru namanya : Baruak !
Jan sampai, samaso bakuaso,
nan dakek bajauh-jauhan. Lah dapek kandak hati, urang manolong nan kanai caci
maki.  Inyo jauh…inyo balari-lari !
Urang jauh nan duduak maongkang-ongkang di kursi, urang tu lo nan nyo bari.
Urang dakeknyo, inyo jauhi. Urang jauh nan nyo bari kursi. 
Jangankan dibantu, disapa juga
tidak. Jangankan begitu, begini saja jauh panggang dari api. Kini ia
mengada-ada. Tapi sayang, wasit mancaliak bola lakek di tangannyo.
A’is…..a’is , sorak penonton. Priiit 
kecek wasit.
Padohal di babak partamo,
banyak bola nan manggalindiang di kakinyo. Lai inyo cubo manembak bola, tapi
maleset taruih. Acoknyo maarak bola, tapi indak adoh ciek juo nan mambuahkan
gol ka gawang lawan. Iko dek karano inyo pangocok. Pangilik surang.Lai
manembak, masuiak indak. Muntah kayak bola tu di bibia gawang. Padohal,
lapangan ko lah bantuak lapangan miliak rang gaek e surang. Lah takana lo dek
nyo mambuek lapangan baru. Alun lapangan salasai, cilako tibo…dek ulah karajo
indak samparono.
Kalau cilako atau bala nan
tibo, sia nan akan manolong awak partamo-tamo? Tantu dunsanak juo, ndak?
Tapi kini apa juga lagi. Kawan
nan alah bantuak dunsanak nan alah manolong badan diri dulu tu , kinilah jaran
dek karano aia susu dibaleh ju aia garam. Asin. Saasin ambun dari pantai aia
tawa dakek rumah ambo tu bana ha…
Kalau lah baitu, ma ancak
baruak atau karo?
Oooo…soal kera pula lagi
,ya. Yang jelas  teori evolusi  Darwin itu sejak remaja sudah saya tolak
adanya. Manusia bukan berasal dari kera. Kita keturunan Adam.
Kalau kera, berilah mainan,
namuah abis waktu olehnya kalau mendapat mainan baru. Nan saya bukan kera. Saya
kalau dikasih mainan baru, kalau saya tak suka, saya campakkan saja ! Tapi
sayang, mainan baru itu tak pernah pula saya terima-terima…
Kini apa yang terjadi.Haruskah
kita belajar pada beruk atau kera?
Kita adalah manusia. Kita
manusia, bukan malaikat, bukan pula setan. Kita manusia adalah manusia dengan
segala kekurangan dan kelebihannya.Kita tahu mana yang buruk dan mana yang
baik.  Kita tahu dengan ini baik ini
tidak. Ini buruk ini jahat.  Kita tahu
dengan cara balas budi. Yang membuat kita terkadang semamang kabau runciang
tanduak adalah bila sesuatu diukur dengan kepentingan di atas segala-galanya .
Kalau ada penting, kawan dicari…kalau tak ada penting, kawan dilengahi.
Hehehehe….
Jangan sampai cepat merasa
diri menjadi orang penting, kawan. 
Sekalipun kau sudah merasa berkawan dengan banyak orang penting,
sehingga kawan sendiri dianggap tidak penting, suatu saat kau pasti akan
genting.
Ini hidup. Hidup bukan
matematik. Kalaupun hidup itu  matematik,
namun matetematiknya matematik  ajaib;
bukan matematik 2+2=4. Bukankah begitu? 
Konklusinya;  Kawan 
yang sudah membesarkan kita, jangan diremehkan karena kau sudah menganggap
dirimu besar. Besar…besar beruk…!
E…yayai…
Orang yang merasa telah
menjadi orang besar dan cepat merasa besar, pada saat itu
“kebesarannya” adalah kebesaran yang kerdil. Ia tak akan pernah jadi
siapa-siapa dalam waktu yang bertahan lama. Ruruik, sebentar lagi ia. Mengapa?
Karena, tak sedikit pula orang yang dibesarkan oleh kekeliruan dan
kesalahan-kesalahan bila sudah  tiba
masanya maka  ia akan diturunkan dengan
kebenaran. Benar-benar turun. Tak ada kesalahan yang bisa bertahan lama. Beruk
saja, kalau memanjat pohon kelapa, tak butuh waktu lama untuk sampai di atas
dan tak butuh waktu lama untuk turun.
Kalau tuan pandai menaikkan,
tuan harus pandai pula menurunkan !
Orang bijaksana, tahu akan
balas budi. Orang arif, berpantang melukai.
Kita tak boleh sepantun dengan
melepaskan anjiang takapiak. Kapik e lapeh, awaknyo garumeh. Lapeh kapik, gigik
tibo.  Ketika ada kuaso di tangan dek
bantuan tangan kawan, jangan mamapeh dalam balango. Nan artinyo ijan mancari
keuntungan untuak diri sendiri sajo. Keuntungan untuk diri, jan kecek-an untuak
kawan. Awak mangulek, kawan jan mangango. Ijan takah karo, ndak?
Lauk dalam balango ijan lamo bana ditaruh di sinan, basi dia nantik.
Jadilah seorang kawan sejati.
Yang tahu akan baas budi. Orang yang telah memperburuk-burukkan orang yang
telah menolongnya dengan mangalangkan urek ilianya, jangan disikut kiri kanan;
ngilu itu. Gilo kau nanti !
Saya mengamati beruk sekali
lagi. Betapa setianya ia pada tuan yang membantunya. Saya kira persahabatan
beruk dan tuannya tak seperti embun di ujung rumput. Datang panas, embun
lenyap.
Begini…
Ilmu pengetahuan , pendapat
saya dimulai dari “keraguan” melihat, menyimak dan mendengar sesuatu.
Saya menyimak.Saya mendengar.Saya melihat. Saya akan makin ragu dan anti pada
orang yang memburuk-burukkan kawannya sendiri yang setahu sudah banyak
membantunya sehingga ia menjadi orang yang seperti sekarang ini. Seperti yang
kau lihat ini !
Dulu kalau ia duduk, dua
tangannya dikapit oleh pahanya. Kuncun bentuk ayam diakuk. Kini sejak ia sudah
tegak sebenar-benar tegak, dua tangannya tak berasak-rasak dari pinggang.
Kemana berdiri, ia tegak piala terus.Kemana berjalan, ia seperti ayam, dua
tangan masuk ke saku.
Kini ia bertamu. Tapi bukan ke
rumah kawannya dulu. Di antar oleh entah 
siapa itu.
Bagaikan adaik batamu.  Di tarimo batamu, bukan berarti pulo lah  ka sasuai rueh jo buku. Dek rueh lah tahu apo
isi buku, sahinggo buku tamaik dibaco sampai di siko sajo. Bila sudah begini,
sederhana saja  caranya;  lambaikan tangan ke kamera….jangan
mengajankan tuah juga lagi.
E yayai…
Rancak saya melihat beruk di
Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) Piaman ini lagi. Banyak juga dapat pelajaran
kehidupan di sini. Menjadi literasi saya. Terinspirasi saya menulis dibuatnya !
Saya akan mengarah dan melihat
pada beruklah! Bak di baruak barayun ia rupanya. Ia  asik melihat sesuatu sehingga lupa dengan
urusan yang harus dikerjakan. Ia lupa. Baitu takana kepentingannya ,  terkejar-kejar ia hendak pula mengurus ini
itu segala . Segala lubang ia cucuk. Segala jalan ia rambah. Karena ia sangat
ingin tetap berbuai di akar itu di bawah pohon nan rimbun ini.  Berbagai cara ia lakukan sudah  ! Ilmunya ilmu beruk “yang belum
disekolahkan”. Ia cibir sana, cibir sini. Bila perlu, ia belajar capak-capak
baruak. 
Konyolnya, ia tak segan-segan
pula seperti hujan baliak ka langik.
Kini apa daya.Semua telat.
Manga kok alah  karam mangko kok baru
batimbo…
Salam Tuan ‘Pinto Janir’

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Siber Hukum & Kriminal

To Top
Kirim Pesan
Terimakasih Atas Informasinya, Kami akan menjaga identitas pemberi informasi