Berita hari ini
Siswa Prestasi Nasional Ditolak di SMAN 7 & 12 Tangsel
TANGERANG SELATAN,
siber.news – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kota Tangerang Selatan menuai rapor merah. Sistem pendaftaran jalur prestasi di SMAN 7 selaku sekolah tujuan utama, serta SMAN 12 sebagai sekolah cadangan, diduga kuat tidak mengenali dan menolak piagam kejuaraan tingkat nasional milik atlet berprestasi.
Kasus ini menimpa Arka Langit Ramadhan, pesepak bola muda yang mengantongi gelar Juara 1 Liga TopSkor 2025 dan Elite Pro Academy (EPA). Saat proses Pra SPMB, berkas piagam nasional miliknya berulang kali mental dan ditolak oleh sistem di sekolah tujuan utama maupun sekolah cadangan tersebut tanpa alasan teknis yang jelas.
Orang tua siswa sempat mendatangi pihak sekolah mencari keadilan dan penjelasan langsung. Alih-alih mendapat solusi, mereka justru dipersulit secara birokrasi oleh panitia SMAN 7 dengan instruksi meminta tanda tangan tambahan dari Ketua PSSI Tangsel
Ironisnya, setelah tanda tangan Ketua PSSI dipenuhi, sistem Pra SPMB di SMAN 7 dan SMAN 12 Tangsel tetap menolak piagam nasional tersebut. Panitia SMAN 7 justru kembali mendesak orang tua menggantinya dengan piagam Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat Kecamatan agar bisa lolos sistem pra spmb dan terbaca oleh sistem.
Pemaksaan penurunan kelas prestasi oleh panitia SMAN 7 ini dinilai merugikan dan memangkas habis bobot poin yang seharusnya diterima sang atlet. Akibat adanya dugaan manipulasi sistemis ini, posisi Arka langsung tergeser dan terancam tersingkir dari kuota kelulusan jalur prestasi, baik di sekolah utama maupun cadangan.

Kekecewaan keluarga kian mendalam karena adanya dugaan indikasi standar ganda dalam proses verifikasi berkas tersebut. Rekan satu tim Arka di wilayah DKI Jakarta dan sekolah lain terbukti bisa mengunggah piagam nasional yang sama tanpa hambatan.
“Kami merasa sia-sia, anak yang murni berprestasi justru dijegal oleh sistem. Mengapa verifikasi di SMAN 7 dan SMAN 12 Tangsel begitu janggal?” ungkap orang tua murid dengan nada kecewa terhadap kinerja panitia.
Joko Tingkir selaku Kepala Satuan Pendidikan SMAN 7 Tangsel, saat dikonfirmasi berulang kali terkait karut-marut tindakan panitia dan sistem pendaftaran ini lebih memilih bungkam dan acuh. Sikap tidak responsif dari pucuk pimpinan sekolah tersebut semakin memperkuat dugaan adanya ketidakberesan dalam internal kepanitiaan.
Kejadian ini memicu kecurigaan publik mengenai adanya dugaan praktik “permainan kuota” di balik meja yang melibatkan panitia SMAN 7. Muncul kekhawatiran bahwa jalur prestasi non-akademik sengaja dipersulit demi menyisipkan calon siswa titipan yang tidak berkompeten.
Masyarakat mendesak agar marwah pendidikan di Banten dibersihkan dari praktik transaksional oknum panitia. Investigasi menyeluruh dan audit sistem Pra SPMB 2026/2027 mendesak dilakukan agar hak perlindungan bagi siswa berprestasi tidak dirampas oleh kekuatan uang.






