Berita hari ini
Proyek Penataan Asrama Haji Rp 21,5 Miliar Diduga Asal-asalan dan Jadi Ladang Bancakan
TANGERANG,
siber.news – Proyek raksasa Penataan Lingkungan Kawasan Lingkup Asrama Haji Tangerang senilai Rp 21.550.500.000 dari APBD 2026 kian sarat kontroversi. Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi pada Rabu (24/6), proyek yang digarap oleh kontraktor PT. Wahyu Prima ini diduga kuat berjalan asal-asalan.
Sorotan utama tertuju pada aktivitas para pekerja yang tengah mengebut pengerjaan pengecoran jalan dan penanganan halaman utama. Namun, metode pengerjaan dasar di lapangan dinilai sangat meragukan dan jauh dari standar baku konstruksi.
Di lokasi proyek, hamparan material batu pecah (agregat) yang digelar sebagai lapisan fondasi dasar beton terlihat sangat memprihatinkan. Kualitas material agregat yang digunakan diduga kuat tidak memenuhi spesifikasi teknik konstruksi yang dipersyaratkan.
Dugaan manipulasi spesifikasi ini diperkuat oleh temuan mengejutkan di lokasi proyek. Berdasarkan pantauan lanjutan, Rabu (24/6). Ketebalan agregat yang digelar di sejumlah titik diduga kuat sangat tipis, bahkan tidak mencapai 5 sentimeter.
Kondisi paling fatal justru terlihat pada beberapa area pengerjaan lantai kerja. Awak media mendapati adanya dugaan pelanggaran berat di mana pengerjaan Lean Concrete (LC) atau beton B-Nol. langsung dihamparkan di atas tanah tanpa menggunakan lapisan agregat sama sekali.

(Gambar: Para Pekerja Terpantau Abaikan K3 Saat Bekerja).
Metode kerja tanpa fondasi agregat dan ketebalan LC yang diduga serba minim tersebut dinilai sangat ringkih untuk menopang beban beton mutu K-350 di atasnya. Pelanggaran teknis berlapis ini memicu kekhawatiran besar bahwa struktur halaman dan jalan akan mudah retak, patah, hingga amblas dalam waktu singkat.
Kondisi ini dinilai sangat ironis mengingat pagu anggaran yang digelontorkan negara sangat fantastis, menembus angka puluhan miliar rupiah. Publik menilai, dengan modal sebesar itu, Asrama Haji seharusnya mendapatkan kualitas infrastruktur nomor satu, bukan kualitas semenjana yang diduga sengaja disunat.
Hingga saat ini, progres fisik di lapangan terpantau baru menyentuh tahap penanganan halaman dan pemadatan jalur akses. Sementara itu, item pekerjaan besar lainnya seperti drainase menggunakan u-ditch beton hingga pembangunan struktur atap kanopi ex Masjid Nabawi belum diketahui rimbanya.
Kondisi di lapangan semakin diperparah oleh potret buruknya manajemen kendali mutu dari pihak pemenang tender. Saat awak media melakukan pemantauan di lokasi pengerjaan, tidak terlihat satu pun batang hidung dari pihak manajemen Kontraktor Pelaksana maupun Konsultan Supervisi dari PT. Bayu Berlian Mandiri.
Absennya pengawas membuat para pekerja di lapangan dibiarkan bebas menghampar coran B0 langsung ke tanah tanpa adanya teguran. Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) Kabupaten Tangerang didesak segera membongkar ulang dan mengaudit fisik proyek ini sebelum terlanjur ditutup coran utama.
Lemahnya pengawasan dan indikasi pengurangan volume ini memicu desakan dari berbagai elemen masyarakat agar aparat penegak hukum segera turun tangan. Jika dibiarkan tanpa tindakan tegas, proyek ini dikhawatirkan hanya akan menjadi ladang pemborosan anggaran yang merugikan keuangan negara.
Kondisi ini memantik reaksi keras dari Ketua Perkumpulan Masyarakat DPW KITA – PD Provinsi Banten, Dedi Heryanto. Dirinya menegaskan bahwa jika melihat nilai kontrak yang sangat fantastis, pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan secara optimal, dan pihaknya ketika melihat para pekerja saat bekerja di lokasi, ada dugaan kuat terjadinya Mark Up.
“Kami menduga kuat proyek ini dijadikan ladang Bancakan oleh para oknum Kontraktor, Konsultan Supervisi hingga PPK di Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) Kabupaten Tangerang,” pungkasnya.






