Berita hari ini
Proyek KD Park Kelapa Dua Diduga Asal Jadi, Teknis Pengerjaan Disorot Tajam
TANGERANG,
siber.news – Proyek penataan Lapangan Basket dan Futsal di kawasan KD Park, Kelurahan Bencongan, memicu sorotan tajam karena kualitas pengerjaannya yang dinilai sangat buruk. Pengerjaan yang sedang berlangsung di lapangan diduga kuat dilakukan secara asal-asalan dan terindikasi tidak sesuai dengan spesifikasi teknis bangunan yang layak.
Temuan teknis paling janggal di lokasi pengerjaan drainase lapangan basket adalah penggunaan bata ringan atau Hebel. Secara teknis, Hebel adalah material yang menyerap air dan mudah hancur jika terus-menerus basah, sehingga dinilai sangat tidak layak untuk konstruksi saluran air.
Penggunaan material “murahan” ini memicu dugaan kuat adanya praktik curang oleh pihak pelaksana proyek. Hal tersebut mencurigai bahwa pemilihan Hebel sengaja dilakukan untuk menekan biaya modal serendah mungkin demi keuntungan sepihak.
Salah seorang warga sekitar mengungkapkan kekecewaannya melihat kualitas pengerjaan tersebut. “Kami sangat menyayangkan, masa proyek pemerintah pakai Hebel buat saluran air? Katanya mau bagus, tapi kalau begini caranya paling sebentar juga sudah hancur lagi,” katanya dengan nada kecewa.
Kebobrokan teknis proyek ini semakin nyata dengan terlihatnya saluran yang sedang dibangun namun tidak memiliki jalur pembuangan air (outlet) yang jelas. Saluran buntu ini terindikasi hanya akan menciptakan genangan air statis yang berisiko menjadi sarang jentik nyamuk dan sumber penyakit bagi warga sekitar.
Kondisi di Lapangan Futsal pun memprihatinkan, di mana rumput sintetis kini dihilangkan dan rencananya akan dilakukan pengecoran. Namun, langkah pengecoran ini dilakukan tanpa adanya pembuatan saluran air yang memadai di area tersebut.
Hal ini menyebabkan sistem penyerapan air menjadi tidak jelas dan menunjukkan perencanaan proyek yang sangat amatir.
“Seharusnya saluran air itu jadi prioritas, kalau cuma dicor tanpa drainase, airnya mengendap di mana? Ujung-ujungnya cuma jadi tempat nyamuk bertelur,” tambah warga tersebut saat berada di lokasi.
Menanggapi carut-marut ini, Aktivis Perkumpulan Gerakan Moral Anti Kriminalitas (GMAKS) Tangerang Raya, Holida Nuriah ST, mendesak Inspektorat Kabupaten Tangerang segera turun ke lapangan. Ia meminta audit investigatif dilakukan secara menyeluruh untuk membongkar siapa saja oknum yang bermain dalam proyek ini.
Ketidakpedulian pelaksana juga terlihat dari pengabaian standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), di mana para pekerja dibiarkan bekerja tanpa alat pelindung diri (APD). Fakta visual di lokasi menunjukkan pekerja tidak menggunakan helm, rompi, maupun sepatu keselamatan.
Masyarakat kini menunggu keberanian pemerintah daerah untuk menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengerjaan asal jadi ini. Jangan sampai uang rakyat habis begitu saja hanya untuk fasilitas berkualitas rendah yang dibangun secara tidak jujur. (Red)








