Berita hari ini
Dugaan Kongkalikong Proyek KD Park, Camat Kelapa Dua Berlindung di Balik Pihak Rekanan
TANGERANG,
siber.news– Praktik “hambur-hambur” uang rakyat di Kecamatan Kelapa Dua kini menjadi sorotan tajam. Proyek kembar pembongkaran Lapangan Futsal dan Basket di KD Park Kelurahan Bencongan dinilai sebagai pemborosan anggaran yang dipaksakan demi menyerap APBD 2026.
Bayangkan saja, dua paket proyek dengan nilai hampir identik, masing-masing Rp199.400.000, digunakan untuk menghancurkan fasilitas yang usianya baru setahun. Publik mencium aroma amis di balik nilai proyek yang sengaja dipecah agar tidak menyentuh angka tender terbuka.
Camat Kelapa Dua, Dadang Sudrajat, saat dikonfirmasi bukannya memberikan jawaban lugas mengenai urgensi penghancuran aset layak tersebut. Ia justru menunjukkan sikap tidak profesional dengan melemparkan tanggung jawab konfirmasi kepada pihak kontraktor atau rekanan.
“Tadi saya kirim ke rekanannya, kata dia fia (pihak rekanan) yang jawab,” tulis Camat singkat melalui pesan elektronik, seolah ingin mencuci tangan dari tanggung jawabnya sebagai pengguna anggaran.
Sikap “oper bola” ini sangat memalukan bagi seorang pejabat publik. Bagaimana mungkin seorang Camat tidak mampu menjelaskan teknis penggunaan anggaran ratusan juta di wilayahnya sendiri dan justru membiarkan pihak swasta yang “berbicara” mewakili institusi pemerintah.
Ketidakberesan semakin nyata saat ditanya soal status aset rumput sintetis yang raib dari lokasi. Camat dengan enteng berdalih belum mengecek detail lapangan dan belum berkoordinasi dengan PPTK, sebuah alasan klasik untuk menghindari audit publik.
Ironisnya, alih-alih fokus pada transparansi uang pajak, Camat malah sibuk mempertanyakan legalitas media dan asal-usul nomor wartawan. Sikap defensif ini memperkuat dugaan adanya hal yang sengaja ditutupi dalam proyek “bongkar-pasang” yang mencurigakan ini.
Masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum untuk tidak diam. Proyek mubazir senilai hampir Rp400 juta ini harus diusut tuntas agar anggaran daerah tidak hanya dijadikan ajang “bancakan” para oknum pejabat dan rekanan yang haus proyek.








