Berita hari ini
Daan Mogot Terkunci, Gertak Sambal Pramono Anung Ditertawakan Terminal Bayangan
JAKARTA,
siber.news – Janji manis Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk memberangus terminal bayangan terbukti hanya menjadi pepesan kosong. Hingga Selasa (28/4/2026) petang, pemandangan semrawut justru tersaji tepat di depan hidung aparat, yakni di ruas jalan depan Kantor Polisi Lalu Lintas Daan Mogot, Kalideres.
Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dengan leluasa “ngethem” dan parkir liar di badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas dari arah Jakarta menuju Tangerang lumpuh total, menyisakan ruang sempit bagi pengendara lain yang terjebak dalam polusi dan klakson yang bersahutan.
Kondisi ini memicu amarah para pekerja yang hendak pulang ke rumah. Mereka menilai wibawa pemerintah daerah telah runtuh karena kalah oleh arogansi awak bus yang menjadikan jalan raya sebagai terminal pribadi tanpa rasa takut sedikitpun.
“Katanya mau menertibkan semua terminal bayangan, mana buktinya? Kenyataannya masih banyak dan tidak ada yang jera,” teriak salah satu pengendara sepeda motor di tengah kemacetan. Ia menyebut pernyataan Gubernur selama ini tak lebih dari sekadar gertak sambal.
Kritik pedas warga bukan tanpa alasan. Kehadiran bus-bus ini di depan kantor polisi menunjukkan adanya pembiaran yang nyata. Masyarakat kecil yang hanya ingin pulang setelah lelah bekerja merasa dikorbankan demi kepentingan segelintir pengelola bus nakal.
Ironis memang, di saat teknologi transportasi Jakarta diklaim semakin maju, masalah klasik seperti terminal bayangan justru gagal total ditangani. Ketidakmampuan Pemprov DKI dalam mengeksekusi sanksi tegas membuat aturan hanya menjadi pajangan di atas kertas.
Kekesalan warga kian memuncak karena dampak kemacetan ini merembet ke sisi ekonomi dan psikis para buruh bergaji pas-pasan. Waktu istirahat mereka habis di jalan hanya karena negara tidak hadir untuk mengatur ketertiban di titik-titik krusial seperti Kalideres.
Kini, publik menunggu apakah Gubernur Pramono Anung akan tetap diam dengan predikat “gertak sambal”, atau berani mengambil tindakan nyata. Tanpa aksi tegas, Daan Mogot akan tetap menjadi saksi bisu kegagalan tata kelola transportasi di ibu kota.








