Uncategorized
Kabar Duka: Selamat Jalan Pak Syafrudin, Catatan Pengabdian Sang Birokrat
SERANG, Siber.news – Kabar duka yang menyelimuti Kota Serang pada Selasa pagi, 23 Juni 2026, bukan sekadar berita kehilangan seorang tokoh publik. Kepergian mantan Wali Kota Serang periode 2018–2023, H. Syafrudin, S.Sos., M.Si., pada pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Sari Asih, adalah sebuah pukulan telak bagi memori kolektif masyarakat ibu kota Provinsi Banten ini.
Kota Serang hari ini tidak hanya kehilangan seorang mantan pemimpin, tetapi juga figur “bapak” yang merangkak dari bawah bersama denyut nadi masyarakatnya.
Menengok ke belakang, perjalanan hidup almarhum Syafrudin adalah cerminan dari ketekunan sejati. Lahir di Serang pada 9 Januari 1963, ia tidak langsung melenggang ke panggung politik praktis. Perjalanan kariernya dimulai dari tempat yang sangat mulia: sebagai seorang guru.
Dedikasinya mendidik generasi muda menjadi fondasi karakter kepemimpinannya yang sabar dan mengayomi saat bertransisi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Di lingkungan birokrasi, ia dikenal sebagai birokrat senior yang matang, paham betul seluk-beluk pembenahan kota, sebelum akhirnya takdir—dan kepercayaan masyarakat—membawanya ke puncak karier politik sebagai Wali Kota Serang pada Desember 2018 hingga Desember 2023.
“Beliau adalah contoh nyata bagaimana sebuah pengabdian panjang, jika dilakukan dengan ikhlas, akan membawa seseorang ke puncak penghormatan tertinggi di masyarakatnya.”
Masyarakat tentu terkejut dengan kepergian yang terbilang mendadak ini. Berdasarkan penuturan kerabat almarhum, Eka Ugi (dikutip dari BantenNews.co.id – red) penurunan kondisi kesehatan Syafrudin terbilang cepat. Berawal dari keluhan gangguan tenggorokan hingga tubuh yang melemas, almarhum diduga mengalami serangan stroke setelah sempat terjatuh di kediamannya pada Sabtu lalu.
Bagi seorang tokoh yang selama ini dikenal aktif dan masih terus berinteraksi dengan warga, kabar bahwa kaki kirinya mendadak tidak dapat digerakkan hingga harus dilarikan ke RS Sari Asih tentu menjadi sinyal pilu. Kenyataan bahwa almarhum tidak memiliki riwayat penyakit stroke sebelumnya membuat kepergian ini terasa kian mengejutkan dan meninggalkan kesedihan yang mendalam.
Kini, mengalir derasnya ucapan belasungkawa dari tokoh agama, rekan sejawat, hingga masyarakat biasa menjadi bukti sahih: Syafrudin adalah pemimpin yang dicintai.
Rencana pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sumur Pecung, Kota Serang, akan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raga sang pamong praja. Namun, jejak-jejak kebijakan, senyuman ramah, dan dedikasinya dalam membangun Kota Serang selama lima tahun masa jabatannya akan tetap hidup dalam sejarah.
Selamat jalan, Pak Syafrudin.
Terima kasih atas setiap peluh yang menetes demi kemajuan Kota Serang. Semoga segala amal ibadah dan pengabdian panjangmu dinilai sebagai pahala yang berlipat ganda, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang luas. Kota Serang akan selalu mengingatmu.






