Berita hari ini
Indikasi Kecurangan Proyek Jalan Sukadiri, Pejabat PPTK Malah Minta Nomor Rekening ke Media
TANGERANG,
siber.news – Proyek rekonstruksi Jalan Cituis-Sukadiri senilai Rp6,2 miliar tengah menjadi sorotan tajam. Temuan di lapangan menunjukkan kedalaman galian tanah hanya berkisar 45 cm hingga 47 cm, padahal ketentuan standar teknis mengharuskan kedalaman hingga 57 cm.
Secara spesifikasi, kedalaman 57 cm tersebut wajib dibagi untuk tiga lapisan: Agregat setelah pemadatan (Wales/Vibro) 20 cm, lapisan LC atau B0 setebal 12 cm, serta beton utama (Rigid) 25 cm. Jika galian tidak mencapai target, maka volume material untuk jalan selebar 7 meter ini dipastikan tidak akan terpenuhi.
Dugaan pengurangan volume makin menguat setelah lapisan B0 ditemukan hanya setebal 7 cm dari yang seharusnya 12 cm. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa ketahanan jalan sepanjang 600 meter lebih tersebut akan sangat rendah karena materialnya diduga dikurangi secara sistematis.
Edward, selaku pelaksana proyek dari CV Putra Indah Kredibel, memilih bungkam saat dikonfirmasi terkait temuan teknis tersebut. Sikap acuh sang kontraktor seolah mempertegas adanya masalah besar yang sedang ditutup-tutupi terkait kualitas pekerjaan di lokasi proyek.
Pihak Konsultan Supervisi, Farid, juga bersikap serupa. Sebagai pengawas yang dibayar negara untuk menjamin spesifikasi proyek, diamnya Farid memicu kecurigaan bahwa fungsi pengawasan di lapangan memang sengaja dibiarkan mandul.
Kejadian paling janggal muncul saat awak media meminta penjelasan kepada Faizal Faiz, selaku PPTK Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang. Meski sempat berkomentar bahwa proyek tersebut memiliki lebar 7 meter dengan panjang 600 meter lebih, ia tidak memberikan data pasti soal panjang proyek tersebut.
Alih-alih memberikan penjelasan teknis atau langkah evaluasi terhadap pelaksana, Faizal justru merespons dengan meminta nomor rekening kepada awak media. “Kirim norek (nomor rekening) saja bang,” tulisnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Permintaan nomor rekening ini dianggap sangat tidak etis karena muncul tepat saat media sedang menagih transparansi anggaran rakyat. Masyarakat kini mendesak pihak berwenang segera bertindak sebelum seluruh bukti kecurangan pada jalan tersebut tertutup permanen oleh lapisan beton.








