Berita hari ini
Proyek Jalan Sukadiri Diduga Curangi Galian dan Volume Material
TANGERANG,
siber.news – Proyek Lanjutan Rekonstruksi Jalan Cituis Sukadiri senilai Rp6,2 miliar yang dikerjakan oleh CV. Putra Indah Kredibel kini diterpa dugaan miring. Temuan kedalaman galian yang tidak mencapai standar teknis memicu dugaan kuat adanya praktik pengurangan volume material secara sistematis.
Secara spesifikasi, proyek ini mewajibkan kedalaman galian tanah sedalam 57 cm. Ruang tersebut diperuntukkan bagi lapisan Agregat 20 cm, lantai kerja B0 12 cm, dan beton utama (Rigid) setebal 25 cm guna menjamin kekuatan struktur jalan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kedalaman galian yang dilakukan pihak kontraktor hanya berkisar antara 45 cm hingga 47 cm. Dengan selisih hingga 12 cm, muncul indikasi kuat bahwa spesifikasi tiga lapisan material tersebut tidak akan terpenuhi sepenuhnya.
Dugaan tersebut makin nyata saat melihat ketebalan lapisan B0 yang akan dipasang. Berdasarkan pantauan di lokasi, material B0 yang seharusnya setebal 12 cm ternyata ditemukan hanya setebal 7 cm, sebuah selisih yang sangat mencolok secara teknis.
Temuan ketebalan B0 yang hanya 7 cm ini menjadi bukti krusial adanya potensi pengurangan volume sejak tahap awal. Jika wadah galiannya dangkal, mustahil material yang dihamparkan bisa mencapai volume maksimal sesuai kontrak.
Logikanya, jika ruang galian kurang dan ketebalan B0 dikurangi, maka seluruh lapisan material di atasnya terancam ikut “disunat”. Hal ini mencakup ketebalan Agregat hingga lapisan beton utama (Rigid) yang menjadi inti kekuatan jalan.
Menanggapi temuan tersebut, Rifki selaku Pengawas Lapangan berdalih bahwa angka dalam spesifikasi teknis bukanlah angka mati. Ia menyebut bahwa hitungan material di lapangan menggunakan sistem rata-rata, sehingga tidak semua titik harus memiliki ketebalan yang sama persis.
Rifki juga mengakui bahwa dirinya tidak bisa memantau jalannya proyek setiap saat karena keterbatasan waktu. Ia mengaku hanya melakukan kontrol ke lokasi sekitar satu hingga dua kali dalam seminggu untuk melihat perkembangan pengerjaan.
Lebih lanjut, Rifki melemparkan tanggung jawab pengawasan harian sepenuhnya kepada konsultan supervisi. Menurutnya, pihak konsultanlah yang memiliki kewajiban untuk siaga setiap hari di lapangan karena mereka dibayar khusus untuk tugas tersebut.
Di sisi lain, Faizal Faiz selaku PPTK Bina Marga BMSDA Kabupaten Tangerang menyatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium. Ia menekankan bahwa kualitas kepadatan agregat nantinya akan dinilai berdasarkan hasil uji lab dan nilai CBR.
Persoalan ini tidak bisa dibantah karena lapisan Agregat kini sudah tertutup oleh material B0, sehingga volume asli Agregat sulit diverifikasi secara kasat mata. Kondisi ini menjadi bukti kuat lemahnya pengawasan di lapangan yang seolah membiarkan kontraktor menutup-nutupi potensi kekurangan volume material.
Masyarakat mendesak Dinas BMSDA untuk segera mengusut dugaan penyimpangan pengerjaan ini, sementara Edward selaku Pelaksana Proyek tersebut, saat dikonfirmasi oleh awak media tidak merespon hingga berita ini kembali dipublikasikan.








