Daerah
Aliansi Masyarakat Banten Segel Proyek Sawah Luhur: Rakyat Lawan Pembangunan Tanpa Keadilan
KOTA SERANG | Dentuman perlawanan menggema di tanah Sawah Luhur. Ratusan massa dari Aliansi Perjuangan Masyarakat Banten turun ke jalan, menggelar demonstrasi besar-besaran menentang mega proyek yang dituding sarat malapraktik prosedural, ancaman ekologis, dan pengabaian hak hidup rakyat.
Aksi yang mempertemukan petani, nelayan, mahasiswa, hingga tokoh pendekar itu memuncak pada prosesi penyegelan simbolik di area proyek. Langkah ini menjadi mosi tidak percaya terhadap pembangunan yang dinilai berjalan di atas penderitaan warga dan ketidakpastian hukum.
Simbol Kedaulatan Rakyat terasa menyelimuti lokasi saat bendera Merah Putih berukuran raksasa dibentangkan di tengah area proyek. Bagi massa aksi, ini bukan sekadar seremoni, melainkan pesan tajam bahwa kedaulatan tanah berada di tangan rakyat, bukan pemodal.
“Kami tidak anti-pembangunan, tapi kami menolak keras pembangunan yang dipaksakan melalui jalur gelap tanpa transparansi dan keberpihakan pada rakyat. Jika suara kami diabaikan, api perjuangan ini akan membara hingga ke tingkat nasional. Tanah ini adalah nafas kami, bukan komoditas tak bertuan.” Ujar koordinator aksi Idan Wildan dalam orasinya
Ancaman Ekologis dan Kegelisahan Warga
Kegelisahan mendalam juga disuarakan oleh Bunda Umi, perwakilan warga Sawah Luhur. Ia menyoroti dampak sosial dan ekologis akibat minimnya transparansi analisis dampak lingkungan (AMDAL).
“Kami yang paling tahu rasa tanah ini, kami yang akan menanggung debunya. Bagaimana mungkin proyek sebesar ini berjalan tanpa kejelasan perizinan dan dialog jujur dengan kami?” ujarnya getir
Tuntutan Aliansi
Meski tensi tinggi, aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan aparat. Aliansi menegaskan tiga tuntutan utama:
1. Penghentian segera seluruh aktivitas proyek hingga aspek administratif dan lingkungan diselesaikan secara hukum.
2. Transparansi publik atas perizinan dan AMDAL secara terbuka.
3. Dialog terbuka melibatkan pemerintah daerah, pengembang, dan masyarakat terdampak tanpa intimidasi.
Diakhir, Aliansi menutup pernyataan dengan tekad: perjuangan akan dikawal hingga titik darah penghabisan, mendesak pemerintah untuk tidak menutup mata sebelum konflik meluas lebih jauh. (BA)





















