Connect with us

Edhy Prabowo Harapan Baru Perikanan Indonesia, Oleh Agnes Marcellina

Budaya

Edhy Prabowo Harapan Baru Perikanan Indonesia, Oleh Agnes Marcellina

Selama 20 tahun menjalani usaha di bidang perikanan, saya mempunyai kesempatan untuk keluar masuk pabrik yang mungkin jumlahnya sudah ratusan kali baik itu di dalam negeri ataupun di manca negara seperti Thailand, Vietnam, China, Malaysia, Singapura, Myanmar, Philippine, India, New Zealand, Amerika Serikat dan Belanda. Dengan demikian saya dapat membandingkan satu pabrik dengan lainnya dan satu negara dengan negara lainnya.

Pada awal tahun 2000 an , pabrik-pabrik perikanan di Indonesia sangat jauh ketinggalan dibandingkan dengan pabrik di negara lain , begitu pula dengan di Vietnam yang kondisinya tidak lebih baik daripada Indonesia.

Namun demikian pembangunan dan kemajuan serta pertumbuhan bidang perikanan di Vietnam melesat bak sebuah meteor dengan kecepatan yang luar biasa sehingga menjadi salah satu negara penghasil laut terbesar di Asia yang memberikan dampak kemajuan ekonomi bagi rakyatnya.

Alhamdulilah di Indonesia pun sudah ada pabrik pabrik perikanan yang sangat besar dengan menggunakan teknologi dan fasilitas yang tidak kalah dengan negara maju seperti misalnya KML ( Kelola Mina Laut( Group ,BMI ( Bumi Menara Internusa), Toba Surimi Industries tetapi sayangnya jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari.

Pabrik pabrik yang ada di Indonesia relatif tidak terlalu banyak perubahan walaupun ada perbaikan disana sini tetapi sifatnya memang masih konvensional dan belum ada terobosan yang cukup significant.

Pergantian kepemimpinan KKP ( Kementerian Kelautan dan Perikanan) sejak Rokhmin Dahuri – Freddy Numberi – Fadel Muhammad – Sjarif Tjitjip Soetardjo- Susi Pudjiastuti belum membawa nama Indonesia menjadi produsen terbesar di bidang hasil laut di Asia padahal luas wilayah laut Indonesia sangatlah besar dengan potensi ekonomi yang harusnya bisa mengalahkan Vietnam dan Thailand.

Daya saing produk hasil laut Indonesia semakin hari semakin menurun yang disebabkan oleh banyak hal mulai dari efisiensi, harga bahan baku, labour cost, kebijakan pemerintah sampai kepada terlalu banyaknya biaya siluman yang menyebabkan harga ekspor lebih mahal dibandingkan dengan dari negara lain.

Produk udang yang pernah menjadi primadona Indonesia dan dijual ke Jepang, Amerika Serikat dan Eropa , saat ini negara negara tersebut lebih memilih India, Vietnam dan Thailand dibandingkan Indonesia. Terlalu mahal….begitu alasannya. Bukan cuma produk udang tetapi produk hasil laut lainnya juga kondisinya kurang lebih sama.

Hasil perikanan yang biasanya diekspor ke luar negeri belum bisa diserap untuk kebutuhan dalam negeri karena pastinya juga mahal sekali untuk rakyat kita dan kebutuhan ikan masyarakat Indonesia justru saat ini banyak impor dari negara lain dengan masuknya ikan dori, gindara bahkan juga ikan kembung dan teri nasi yang banyak kita jumpai di pasar adalah juga diimpor dari negara lain.

Saat ini tantangan bagi Menteri Kelautan dan Perikanan kita yang baru yaitu Edhy Prabowo mewujudkan cita cita Indonesia sebagai negara maritim yang dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia melalui hasil laut sebagai salah satu sumber daya alam yang kita miliki. Sebagai masukkan yang mungkin bisa dikaji dalam implementasinya, saya ingin menyampaikan beberapa poin :

Mengevaluasi kinerja BUMN seperti Perinus dan Perindo khususnya unit kerja pabrik pabrik yang ada agar dapat menjadi pioneer percontohan bagi pabrik pabrik yang lain baik dari sisi produktivitas maupun keuntungan dari hasil sebuah usaha yang menambah pemasukkan bagi negara dan bukan sebaliknya membebani anggaran negara.

Di Thailand BUMN perikanan bahkan bisa go public dan menjadi perusahaan yang besar dan menguntungkan bagi negara. Pengelolaannya harus dilakukan secara professional dengan orientasi dagang tetapi juga mencapai tujuan idealis sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Jika ingin mencontoh apa yang dilakukan di China adalah pelaku-pelaku usaha perikanan diberikan kemudahan dalam membangun pabrik. Mereka mempunyai tanah dan untuk pembangunannya diberi pinjaman modal melalui bank pemerintah 100% sesuai dengan kebutuhan. Bunga pinjaman sangat kecil bahkan di tahap awal ada yang 0%.

Dalam pengelolaannya pemerintah mengawasi ketat perkembangan dari pabrik tersebut dan secara berkala orang orang yang ditugaskan oleh pemerintah melakukan inspeksi. Saat pabrik tersebut performs sesuai dengan target maka pemerintah memberikan bonus atau insentif.

Pola seperti ini berdampak terhadap pertumbuhan usaha di bidang perikanan dan membuat pengusaha kreatif karena ada dukungan dari pemerintah. Sebuah pabrik di China bisa mengeskpor ikan tilapia ke Amerika Serikat sebanyak 500 – 1.000 container per bulan adalah hal yang biasa.

Produksi tilapia China sekitar 1.750.000 tons per tahun dan 62% nya di ekspor ke USA. Jumlah tersebut kurang lebih 87.500 containers 40ft per tahun nya. Angka yang fantastis. Kolaborasi pemerintah dan pengusaha menjadikan China sebagai produsen terbesar tilapia di dunia.

Lain di China lain pula di Vietnam. Perusahaan-perusahaan BUMN yang dimiliki oleh pemerintah pada zaman dahulu ditawarkan kepada para pegawai untuk bisa memiliki perusahaan tersebut. Awalnya mereka hanya diberi sedikit saham tetapi dengan berjalannya waktu dan saat perusahaan tersebut performs well, saham pemerintah dijual sedikit demi sedikit sampai akhirnya kepemilikannya berubah menjadi swasta.

Pemerintah melakukan support seperti itu dengan harapan pembangunan dan perdagangan meningkat . Dukungan penuh kepada usaha di bidang perikanan menghasilkan prestasi yang luar biasa. Hanya dalam kurang lebih 10 tahun Vietnam sudah melesat melampaui Indonesia. Begitu pula hal yang sama terjadi pada komoditi kopi.

Thailand yang sudah lama menjadi kompetitor Indonesia dulu di produk udang terus meningkatkan produk hasil laut mereka melalui value added baik untuk makanan beku maupun kemasan kaleng. Perusahaan perikanan di Thailand bisa menjadi salah satu perusahaan besar di dunia bahkan mengakuisisi perusahaan perusahaan di Amerika Serikat.

Pepatah mengatakan “Banyak Jalan Menuju ke Roma”. Dibawah kepemimpinan bapak Edhy Prabowo, semoga ada banyak jalan untuk memajukan dan memberdayakan secara maksimal hasil laut dari perairan Indonesia yang merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai sumber penghasilan rakyat Indonesia untuk mencapai kesejahteraan sehingga keluarga Indonesia dapat merasakan pangan, sandang, papan dan pendidikan yang layak.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Budaya

Facebook

Trending

Advertisement
Advertisement
Advertisement
LBH TRIDHARMA INDONESIA
To Top